Senin, 13 April 2009

EMOSI

Mengatasi Masalah Tanpa Masalah. Mungkin semboyan ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Rangkaian kata yang dipilih Perum Pegadaian untuk menawarkan produk unggulannya. Sebuah tawaran yang menarik dan menjanjikan.
Kalau kita pikir, siapa sih di dunia ini yang bebas dari masalah. Dari mulai pengemis sampai pengusaha kaya, semua pasti punya masalah. Hanya ada dua hal yang membedakannya. Berat ringannya masalah dan cara mereka dalam menyikapi masalah itu sendiri. Sebagai seorang muslim, saya sangat meyakini, bahwa masalah adalah cara Allah untuk menguji hambanya. Seberapa sabar, seberapa istiqomah, dan seberapa “pandai” sang hamba untuk mengambil hikmah dari permasalahannya. Masalah juga merupakan wujud kasih dan sayang Allah kepada hambanya. Jadi beruntunglah orang-orang yang selalu diliputi masalah demi masalah, namun bisa menghadapinya dengan sabar.

Menurut pengertian yang saya pahami, masalah adalah saat dimana terjadi ketidaksamaan antara harapan dan kenyataan. Kita mengharapkan A tapi yang terjadi malah B, C, atau bahkan Z. Dan respon awal yang muncul adalah perasaan tidak nyaman, yang diwujudkan oleh emosi kecewa, sedih, khawatir, takut, dan berbagai emosi negatif lainnya. Ini wajar. Wajar sekali. Dan siapapun pasti pernah mengalaminya. Dari emosi negatif, muncul sikap negatif. Seperti yang biasa kita lakukan seperti, ekspresi cemberut, murung, menangis, mengomel, marah, bertindak kasar, bahkan sampai bunuh diri. Nauzubillah. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi masalah?

Beberapa bulan yang lalu, alhamdulillah, saya dihadapkan pada fase terberat dalam hidup saya. Sebuah masalah yang benar-benar hadir “prime time” dalam diri saya selama ini. Dan ternyata, justru dengan masalah itulah Allah memberi kesempatan kepada saya untuk belajar. Buku La Tahzan yang fenomenal karangan Dr. Aidh Al Qarni, menjadi satu-satunya teman pelipur lara. Banyak hal yang saya dapatkan dalam buku itu.
Begitu beratnya permasalahan yang kita rasakan, sampai-sampai kita menganggap hanya kitalah yang mempunyai masalah di dunia ini. Ya, hanya kita. Dan kadang timbul rasa iri melihat orang-orang disekitar kita, yang masih menurut anggapan kita, tidak mempunyai masalah sama sekali. Dalam bukunya, Dr. Aidh Al Qarni mengatakan. Jangan bersedih, karena tidak hanya kita di dunia ini yang di anugerahi masalah oleh Allah SWT. Masih banyak saudara-saudara kita yang lain yang bernasib sama dengan kita. Masih banyak saudara-saudara kita yang menanggung beban lebih berat dibanding kita, tetapi toh mereka masih bisa tersenyum dan optimis. Saudara kita di sekitar luapan lumpur panas Lapindo, korban gempa di Jogjakarta, saudara kita di Iraq, Palestina, dan masih banyak lagi. Mereka seharusnya menjadi pemicu kita untuk lebih optimis

Di paragrafnya yang lain, beliau mengungkapkan. Jangan bersedih, harusnya anda bersyukur, masalah adalah bukti bahwa Allah peduli kepada kita dan ia merupakan batu ujian untuk derajat yang lebih tinggi, apabila kita tetap bersabar dan ikhtiar.
Subhanallah, dan masih banyak kata-kata motivasi yang lainnya. Yang mengantarkan kita pada kesadaran, ketaatan, penyerahan diri, dan kekuatan untuk bertahan.
Selain La Tahzan, ada sebuah buku, saya lupa judulnya, yang kebetulan saya baca secara gratis disebuah toko buku, menarik untuk kita angkat. Di dalam salah satu babnya, buku itu mejelaskan. Pernahkah kita melihat teman, saudara, atau mungkin kita sendiri merasa benar-benar ketakutan ketika melihat sebuah film horor di bioskop. Atau menangis sesenggukan menahan haru ketika melihat tayangan sinetron yang mengundang iba.

Hal yang sangat kontras terjadi, ketika kita melihat teman atau saudara yang lain malah ketawa-ketawa saat menonton film horor. Dia menganggap triknya terlalu polos sehingga bukannya menakutkan, justru menggelikan baginya.
Dari contoh di atas, bisa dijelaskan sebagai berikut. Orang yang paranoid terhadap film horor, biasanya melibatkan semua emosinya. Selain itu, suasana gedung bioskop yang mendukung, dengan suara digital dan layar lebar, seolah-olah mereka merasa masuk menjadi bagian dari cerita. Beda dengan orang yang hanya ketawa-ketawa saat melihat film horor. Dia membuat jarak antara dirinya dan cerita yang ia lihat. Sehingga dalam keadaan ini dia bisa menetralisir emosinya.

Uraian di atas setidaknya bisa menjadi analogi dalam proses menghadapi masalah. Orang yang cenderung berlarut-larut dalam kesedihan karena suatu masalah, biasanya masih belum mampu melepaskan balutan emosi yang sebenarnya justru menjauhkan dia dari solusi. Sebab kalau kita lihat, yang menjadi masalah sebenarnya adalah emosi dan sikap kita saat menghadapi masalah itu. Bukan masalahnya. Aa’ Gym sering mengatakan, bukan masalahnya yang menjadi masalah, akan tetapi sikap kita dalam menghadapai masalah itu sendiri lah yang menjadi induk masalahnya.

Sehingga para pakar NLP menganjurkan, ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, jangan langsung bereaksi dengan melibatkan emosi. Tapi fokuslah pada solusi untuk mengatasinya. Ini adalah cara yang cepat yang memungkinkan kita membuat jarak (secara emosi) dengan masalah. Baru setelah itu, kita bangkitkan emosi-emosi positif melalui anchor yang telah kita buat.
Proses ini sering dikenal dengan Disaosiasi (Melepaskan diri dari masalah).

Namun banyak yang bilang, “Kita manusia mas, bukan malaikat yang ndak punya emosi..!”
Betul. Tetapi kita akan menjadi manusia yang sempurna dan cerdas, apabila kita bisa menempatkan emosi sesuai pada porsinya.


Pelajaran yang bisa kita petik:

1. Setiap manusia pasti pernah dan akan menghadapi masalah
2. Setiap masalah biasanya cenderung diikuti oleh emosi negatif dan sikap negatif
3. Masalah adalah wujud perhatian dan kasih sayang Allah kepada kita
4. Masalah sebenarnya adalah emosi dan sikap kita dalam menghadapi masalah, bukan masalah itu sendiri
5. Bebaskan emosi negatif, dan munculkan emosi positif adalah salah satu cara melepaskan diri dari masalah. (Buang suudzon, kembangkan husnudzon)

sumber: Kesatria Pembelajar

0 komentar:

Posting Komentar

Sahabat-sahabat..ngisi yupz..
kita share hehe...

Template Design by SkinCorner