Senin, 13 April 2009

Cara Belajar yang Baik di Perguruan Tinggi

Oleh H. UNUS SURIAWIRIA

PERGURUAN tinggi, berbeda dengan sekolah lanjutan. Baik ditinjau dari tempatnya, pengajarnya, apalagi dengan sarananya. Keberhasilan lulusannya untuk kemudian bekerja, akan ditentukan oleh tempat, pengajar, dan sarana penunjangnya. Jangan aneh kalau lulusan suatu perguruan tinggi (PT) akan sulit mencari pekerjaan, atau justru banyak perusahaan yang mencari lulusan PT tertentu.

Bagi para calon mahasiswa harus benar-benar jeli dalam memilih dan menentukan PT agar hasilnya kelak bukan hanya ditentukan oleh gelar tetapi oleh kualitas lulusan yang memadai dan bahkan menjadi kebanggaan, sehingga tidak sukar untuk mencari pekerjaan.

Tempat pendidikan

Tempat pendidikan yang memenuhi syarat dan banyak diidamkan, antara lain untuk ruang kuliah, ruang praktikum, ruang belajar dan perpustakaan, serta ruang istirahat termasuk di dalamnya kantin.

Ruang istirahat berguna bila mahasiswa istirahat antarwaktu sebelum mengikuti kuliah lanjutan. Mereka tidak bergerombol sepanjang jalan, atau berkumpul mengelilingi pedagang yang ada di sekitar kampus. Mereka akan beristirahat sambil memanfaatkan waktunya untuk tukar-menukar informasi materi kuliah yang tadi diikuti dengan teman-temannya.

Ruang perpustakaan

Adanya perpustakaan dengan segala fasilitasnya, mutlak harus dimiliki oleh perguruan tinggi. Apa yang dikuliahkan umumnya masih berupa gambaran umum atau pendahuluan dari satu subjek yang dibicarakan, sehingga upaya untuk melengkapinya akan didapat melalui perpustakaan.

Di perpustakaan perguruan tinggi yang sudah maju, di samping sudah tersedia buku, jurnal, ataupun sumber bacaan, juga dilengkapi dengan fotokopi dengan biaya yang murah. Bagi mahasiswa yang memerlukan bahan yang lebih lengkap, tinggal memfotokopi bagian tertentu tanpa harus ditulis.

Ruang kuliah

Cara dosen memberikan kuliahnya, ada beberapa cara.

Ada yang secara langsung membacakan bab yang saat itu tengah dibahas sehingga bagi mahasiswa yang mampu akan membeli buku tersebut, untuk mempermudah mengikuti kuliah. Ada pula yang terpaksa harus mencatat apa-apa yang dibicarakan/dibacakan oleh dosennya.

Tetapi ada pula yang mengutip bab/masalah pokoknya saja yang kemudian akan dilengkapinya dari buku/jurnal di perpustakaan.

Yang sangat memudahkan para mahasiswa mengikuti kuliahnya, yaitu kalau si dosen membuatkan bagan, bab per bab, ataupun ringkasannya melalui infocus. Hal ini sangat membantu para mahasiswa untuk mengikuti kuliah secara baik dan benar.

Bagi mahasiswa yang mengikuti suatu pelajaran, tetap saja harus melengkapinya dengan benar buku teks, jurnal atau dari sumber-sumber yang benar dan baik. Tanpa ini, kesulitan demi kesulitan selama mengikuti pendidikan, akan terus dihadapi.

Ruang kuliah --di samping ruang praktikum untuk jurusan eksakta-- layaknya "candradimuka" untuk penggemblengan watak, kemampuan, dan masa depan mahasiswa. Bagi mahasiswa yang serius, bukan hanya akan mendapatkan prestasi, juga akan mudah untuk mencari pekerjaan yang layak sesuai dengan bidangnya.

Bahasa asing

Bahasa asing yang paling umum diberikan di lingkungan perguruan tinggi adalah bahasa Inggris. Tidak mengherankan kalau salah satu persyaratan yang harus dikuasai dan bernilai baik si calon adalah bahasa Inggris dengan nilai TOEFL minimal 500.

Penguasaan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya bukan hanya akan mempermudah pekerjaan rutin, juga buku-buku yang baik masih banyak yang ditulis dari bahasa asing Inggris.

Cara belajar yang baik

Belajar di perguruan tinggi, jauh berbeda dengan belajar di sekolah lanjutan. Selain ketekunan, kerajinan dan keseriusan, juga kerja keras. Sifat pantang menyerah harus menjadi sifat hakiki kehidupan yang sehari-hari dijalani.

Di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, termasuk di Jepang, seorang mahasiswa S-1 harus menyediakan waktu untuk belajar 12-15 jam dalam sehari. Jika waktu belajar di sekolah (ruang kelas dan laboratorium) 8 jam per hari, maka sisanya sekira 5 jam harus disediakan untuk belajar mandiri di perpustakaan atau di rumah.

Untuk mahasiswa S-2, waktu yang harus disiapkan sedikitnya 18-20 jam, dan untuk mahasiswa S-3 akan lebih dari 20 jam. Jangan dilupakan kalau mahasiswa-mahasiswa di negara-negara tersebut, waktu tidur sangat dibatasi (umumnya kalau ada kesempatan dalam antar waktu dimanfaatkan untuk tidur beberapa menit, walaupun hanya di bawah pohon atau di bangku panjang di taman).

Jangan heran kalau kesibukan demi kesibukan yang harus dijalani mahasiswa pada hari-hari kerja, dan baru akan mendapatkan waktu luang pada hari-hari libur Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya. Namun, waktu senggang pun dimanfaatkan untuk belajar bersama atau belajar mandiri di perpustakaan.

Pada saat menghadapi ujian, tidak ada waktu libur untuk ujian. Saat ini banyak mahasiswa yang malas mengikuti kuliah, sehingga materi apa yang diberikan hari itu, cukup meminjamnya dari teman-temannya (yang belum tentu baik dan lengkap) dan baru dipelajari beberapa hari menjelang ujian.

Dari hasil pantauan terhadap perguruan tinggi sekitar Bandung, beberapa faktor yang menjadi penghambat dan bahkan penyebab mahasiswa gagal belajar, antara lain:

1. Lokasi kampus yang hanya cukup untuk membangun ruang kuliah sehingga pada saat mahasiswa beristirahat antarwaktu yang seharusnya berada di lingkungan kampus, terpaksa harus bergerombol sepanjang jalan, mengelilingi pedagang, dan sebagainya.

2. Jumlah mahasiswa yang seharusnya maksimum menampung 1.000 orang, pada kenyataannya 2 kali lipat bahkan lebih.

3. Perpustakaan, bukan hanya luasnya tetapi juga buku-buku dan sarana belajar lainnya tidak memadai. Bagi mahasiswa apatis, materi kuliah yang didapatkan, cukup hanya dari saat kuliah saja, tidak ada upaya untuk menambahnya dari sumber lain.***

Penulis, mantan dosen ITB.
sumber: Pikiran Rakyat

0 komentar:

Posting Komentar

Sahabat-sahabat..ngisi yupz..
kita share hehe...

Template Design by SkinCorner